A.
Hakikat
Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang
tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan
prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. (Hamalik,
1994).
B.
Hakikat
Desain Pembelajaran
Gagne
(1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses
belajar siswa, dimana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan
jangka panjang.
Menurut gagne, Belajar
sesorang dapat di pengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor
eksternal.
1. Faktor
internal adalah faktor yg berkaitan dengan kondisi yang dibawa atau datang dari
dalam individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar seseorang, minat
dan bakat serta kesiapan setiap individu yang belajar.
2. Faktor
eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan dengan
penyediaan kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar. Desain
pembelajaran berkaitan dengan faktor eksternal ini, yakni pengaturan lingkungan
dan kondisi yg memungkinkan siswa dapat belajar.
Desain pembelajaran sebagai proses
rangkaian kegiatan yang bersifat linear tersebut digambarkan oleh Sambangh
(2006).
1. Menentukan
kebutuhan
2. Pengembangan
desain untuk menjawab kebutuhan
3. Uji
coba
4. Evaluasi
hasil (kembali lg ke menentukan kebutuhan)
Kriteria
desain instruksional
Desain
instruksional yg baik harus memiliki beberapa kriteria diantaranya:
1. Berorientasi pada siswa
Ketika kita mendesain pembelajaran, maka
pertanyaan pertama yg harus kita ajukan adalah bagaimana desain yg kita
kembangkan itu mampu membantu siswa dalam mempelajari bahan pembelajara dan
memudahkan siswa belajar. Beberapa hal yg perlu dipahami tentang siswa
diantaranya:
a) Kemampuan dasar
b) Gaya belajar
b 2. Berpijak
pada pendekatan sistem
Melalui pendekatan sistem bukan saja dapat
diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga akan terhindar dari
ketidakpastian. Hal ini disebabkan karena melalui pendekatan sistem dari awal
sudah diantisipasi berbagai kendala yg mungkin dapat menghambat terhadap
pencapaian tujuan. Atas dasar itulah maka pendekatan sistem dalam desain
instruksional merupakan pendekatan ideal yg dapat dilakukan oleh para desainer
pembelajaran.
3. Teruji
secara empiris
Sebelum digunakan, sebuah desain
instruksional harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris.
Melalui pengujian secara empiris dapat dilihat berbagai kelemahan dan berbagai
kendala yg mungkin muncul sehingga jauh sebelumnya dapat diantisipasi. Selain
itu melalui pengkajian secara ilmiah dapat meyakinkan para pengembang
pembelajaran untuk menggunakannya.
C.
Model
Desain Pembelajaran
1. Model Kamp
2. Model Banathy
3. Model Assure
4. Model Addie
5. Model Dick dan Carey
6. Model Borg dan Gall
D.
Analisis
Kebutuhan (Need Assessment)
a) Pengertian Analisi kebutuhan
Analisis kebutuhan (Need Assessment) merupakan aktivitas
ilmiah untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat proses
pembelajaran guna memilih dan menentukan media yang tepat dan relevan mencapai
tujuan pembelajaran dan mengarah pada peningkatan mutu pendidikan.
Menurut andreson, analisis kebutuhan (need assessment) diartikan sebagai suatu
proses kebutuhan sekaligus meentukan prioritas.
Analisis kebutuhan adalah suatu cara atau
metode untuk mengetahui perbedaan antara kondisi yang diinginkan/seharusnya
atau diharapkan dengan kondisi yang ada, Kondisi yang diinginkan seringkali
disebut dengan kondisi ideal, sedangkan kondisi yang ada, seringkali disebut
dengan kondisi real atau kondisi nyata.
b) Fungsi
analisis kebutuhan
Morrison menjelaskan
beberapa fungsi analisis kebutuhan sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi
kebutuhan yang relavan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu
masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
2. Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait
dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang menggangu pekerjaan atau
lingkungan pendidikan
3. Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan
4. Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas
pembelajaran
Ada
enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan
analisa kebutuhan :
1. Kebutuhan normatif
Membandingkan peserta didik
dengan standar nasional, misalnya UAN, SNMPTN, dan sebagainya.
2. Kebutuhan komperatif
Membandingkan peserta didik
pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel. Misalnya, hasil Ebtanas,
SLTP A dengan SLTP B.
3. Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau keinginan
yan dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini
menunjukkan kesenjangan antara tingkat ketrampilan/kenyataan yang Nampak dengan
yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara
interview.
4. Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang
dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang
mendaftar sebuah kursus.
5. Kebutuhan masa depan, yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan
yang akan terjadi dimasa mendatang. Missal, penerapan teknik pembelajaran yang
baru dan sebagainya.
6. Kebutuhan insidentil yang mendesak, yaitu faktor
negatif yang muncul diluar dugaan yang sangat berpengaruh. Misalnya, bencana
nuklir, kesalahan medis, bencana alam dan sebagainya.
c) Langkah-langkah
analisis kebutuhan
Analisis kebutuhan terdiri atas rangkaian
kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada
perumusan masalah. Adapun tahapan dalam langkah-langkah analisis kebutuhan
meliputi:
1. Pengumpulan informasi
2. Indentifikasi kesenjangan
3. Analisis performance
4. Identifikasi hambatan dan sumber
5. Identifikasi karakteristik siswa
6. Identifikasi prioritas dan tujuan
7. Merumuskan masalah
E.
Analisis
karakteristik siswa
Kegiatan menganalisis
perilaku dan karakteristik siswa dalam mengembangkan pembelajaran merupakan
pendekatan yang menerima siswa apa adanya dan
menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut.
Hal
yang perlu diperhatikan dalam menganalisi karakteristik siswa :
1. Karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan
kemampuan awal atau “prerequisite skilss” seperti : kemampuan intelektual,
kemampuan berfikir, mengucapkan dan kemampuan gerak. Misalnya keterampilan
menggerakkan tangan, kaki, dan badan.
2. Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang
dan status sosial dan kebudayaan
3. Karakteristik yang berkenaan perbedaan-perbedaan kepribadian
seperti : sikap, perasaan, minat dan sebagainya.
Teknik
analisis karakteristik awal siswa
1. Dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang
tersedia. Dokumen yang dimaksud misalnya nilai surat tanda tamat belajar
(STTB), nilai rapor, nilai tes intelegensi dan nilai tes masuk. Catatan-catatan
mengenai prestasi dalam berbagai bidang kegiatan yang pernah diperoleh,
kesemuanya merupakan informasi yang sangat berguna untuk mengetahui keadaan
siswa.
2. Dengan menggunakan tes prasayarat dan tes awal. Tes
prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah siswa telah memiliki pengetahuan
atau keterampilan yang diperlukan atau disyaratkan untuk mengikuti suatu
pelajaran. Sedangkan tes awal adalah tes untuk mengetahui seberapa jauh siswa
telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai ajaran yang hendak
diikuti.
3. Mengadakan konsultasi individual. Dengan mengadakan konsultasi
individual terhadap siswa, guru akan lebih enak mengadakan pendekatan secara
personal untuk guru memperoleh informasi mengenai minat, sikap, keinginan siswa
dan sebagainya.
4. Dengan menyampakan angket atau questionnaire. Angket bisa disusun kemudian disampaikan
kepada siswa. misalnya untuk mengetahui gaya belajar mereka. Gaya belajar ada
bermacam-macam misalnya dependent, independent, competitive, participant, dan
sebagainya.





